Ironi Keterlambatan

Ironi keterlambatan.

 

Hari yang naas bagi bang obeh, karena keterlambatanya untuk membuka pintu kantor pagi itu baru akhirnya bisa dibuka jam 9-an. Bang obeh menjelaskan alasanya terlambatanya, karena semalem pulang kedepok mendadak anak bontotnya sakit “panas” dan baru bisa balik kejakarta habis subuh. Saat ke Jakarta ternyata macet total jalanan menuju kantor.

Tak bisa mengelak pasti kena ‘damprat neh’, si bos berbicara lantang “kamu tahu apa akibatnya kamu terlambat?”, “tahu bos uang makan saya dipotong” jawab bang obeh. Seraya si boz berkata lain “enak saja, uang makan mu sih cuman 25 ribu. Tapi gara-gara mu kita jadi telat mengirimkan invoice, tagihan ke klien yang nominalnya 1000 kali lipat uang makan kamu”. Dan juga lihat karyawan lainya telat “cap jempol” akhirnya ikutan dipotong. Kaget bukan kepalang bang obeh mendengarnya, “waduh” terdengar dari mulutnya. Untuk itu akhirnya bang obeh mendapatkan SP alias surat peringatan agar tidak mengulangi perbuatanya dan sebagai ganjaranya uang makan sebulan tidak diberikan.

Jelang sebulan setelah kejadian tersebut terjadi keterlambatan juga, tapi hal ini dialami oleh si boz, yaitu ketinggalan pesawat keluar kota. Siboz marah besar  kepada crew “masa sih masih 30’ sebelum take off pesawat saya dibilang telat” saat boarding pass. Hanya karena sebelum kebandara masih menjumpai sanak family dan kerabat di utan kayu. Dan saat dibandara tidak langsung masuk check in, melainkan mencari pengganjal perut karena lapar. Kenapa tidak ditraktir saudaranya saat berjumpa family rupanya.

Sampai akhirnya mengorbankan tiket pesawat sebesar 1juta-an hanya karena 5 menit yang lalu.

Sungguh ironi bagi saya menelaah kedua kisah yang sama tapi berbeda levelnya, satu si bang obeh sebagai bawahan dan si boz sebagai atasan yang konon sama-sama mengganggu cash flow perusahaan.

Padahal jika kita telaah lebih lanjut, kasus bang obeh terlambat buka pintu kantor jam 9 tidak begitu signifikan karena setelah pintu dibuka semuanya kembali pada rutinitas normal dan biasa. sedangkan perihal pengiriman tagihan invoice dan sebagainya, bisa diatur waktunya sampai sore tapi dikirim hari itu juga. Artinya segala sesuatunya sudah bisa diatur dan tidak ada problem kecuali hanya keterlambatan masuk kantor saja. Jika di hitung 1 orang Rp 25.000 per 1 jam, dikalikan 20 orang maka senilai 1 juta rupiah saja.

Bandingkan dengan si boz yang telat mengejar pesawatnya, dengan “membuang” uang perusahaan senilai 1jutaan hanya karena sesuatu hal yang tidak signifikan.  Skali lagi sungguh ironi!!

Ini harusnya si boz untuk introspeksi diri untuk lebih menghargai waktu meskipun hanya sesaat atau katakanlah 5-10 menit saja. Dan harus kembali introspeksi untuk melihat uang 1juta sekiranya digunakan untuk uang makan pegawainya tentu lebih bermakna dari pada terbuang percuma, dan kalaupun dikembalikan hanya 10% saja nilainya.

 

Tag:,

About admin

just an ordinary people who will shake the world with khilafah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: